KAMPUS ADALAH RUMAH AKAL SEHAT DAN MINIATUR NEGARA

Dunia kampus dengan mimbar akademis harus tetap diselamatkan sebagai ruang yang merdeka dari intervensi manapun.”Kampus dan argumentasi adalah senapas, sementara arogansi (kekuasaan) dan kepongahan itu sepedunguan. Seperti itu adagium bung Rocky Gerung”

Salah satu contoh visi-misi yang dimiliki oleh pemimpin negara atau calon pemimpin harus siap diuji dikampus tempat ujian akal, atau mimbar akademis,” jika kekuasaan arogan namun tidak percaya diri, maka resikonya berpolitik di kampus atau orang politik masuk kampus dilarang. Padahal ujian tertinggi akal pikiran ada di kampus karena memiliki metodologi.

Tentunya guru besar dan mahasiswa adalah penimbang nalar dan akal pikiran dalam berdialektika. Sekarang kita sepertinya kehilangan kemewahan berpikir, Karena itu, suara kampus harus terus dikelola untuk menghasilkan perubahan,” begitupun juga ekrpresi dari mahasiswa sebagai moral force, agen of cange, dan sosial of control yang harus dipertahankan dan tetap dijaga demi menjaga aspirasi rakyat.

Sementara jika kekuasaan menghadirkan ketakutan dan kebohongan, maka yang terjadi adalah arogansi, karena ketakuatan atau kecemasan tidak mampu mempertahankan kekuasaan tersebut. “Kita percaya politik Indonesia akan tumbuh kembali dengan kondisi akal sehat, bila kampus tetap mempertahankan kritisisme.

Jadi, kita harus mampu meyakinkan kepada masyarakat harus terjadi perubahan, supaya kita lega kembali dana suasana keakraban sesama anak bangsa,” ujarnya.

Akal sehat, menurut definisi Aristotles adalah kemampuan seseorang melakukan penilaian (judgment) yang bersifat basic (dasar) bagi manusia dan hewan, tetapi hanya manusia yang mempunyai “real reasoned thinking”.

Akal sehat menurut RG bersifat a priori bukan a posteriori. Akal sehat muncul dari akal pikiran yang diberikan Tuhan atau alam semesta kepada manusia sebagai kebaikan Tuhan sehingga manusia bisa menjalankan misi kehidupannya.

Lebih lanjut, “Common Sense” adalah sebuah wisdom, “self-evident truth” namun rasional. “Rationalism vs empiricism” dalam menentukan akal sehat sudah menjadi perdebatan lama. Hegelianism tidak membutuhkan pengalaman empirik untuk meyakini sebuah akal sehat. Sebaliknya, misalnya Marx, meyakini akal sehat produk dari sejarah dan materialism.

Dalam membahas peranan kampus sebagai “sumur pikiran” dan pusat peradaban akal sehat, pentingnya kritik. Kritik itu mempunyai pengertian pada dataran konseptual maupun realitas. Dalam pegertian konsepsi.

Kampus merupakan Lembaga Pendidikan terakhir untuk mencari ilmu bila dipandang dari segi formalitas. selain itu, kampus bagaikan “gerbong kemerdekaan” bagi mereka yang sebelumnya dikenal dengan putih abu-abu. Dimana kalau sebelumnya mereka lekat dengan aturan super ketat sekolah, bila sudah masuk dunia kampus aturan-aturan yang seperti itu tidak berlaku lagi. Ditambah lagi metode pengajaran/perkuliahan yang ada di kampus lebih enjoy hingga dapat membuat mereka lebih leluasa ber-ekspresi. Jadi tak heran bila setiap orang pasti mengidamkan untuk dapat merasakan hangatnya bangku perkuliahan. Bukan hanya itu saja, Perguruan Tinggi ternyata juga mempunyai segudang harapan cerah untuk membangun Indonesia lebih baik. Sebut saja mulai dari perumpamaan kampus sebagai miniatur negara, mahasiswanya sebagai agen of change (Pembawa Perubahan), agen of control dan lain sebagainnya.

Deskriptif Singkat

Sebagai tempat menimba ilmu, Kampus menjadi tempat mengasah intelektualitas dan pencarian jati diri mahasiswa. Banyak kegiatan kampus yang memaksa dan menuntut mereka untuk menjadi masyarakat ideal kelak ketika kembali ke kampung halaman. Mulai dari bangku kuliah yang serba padat dengan tugas, seminar silih berganti tapi tak pernah mebosankan, kajian-kajian ilmiah yang terus menjadi bumbu semangat untuk terus belajar.

Tidak cukup di lingkungan kampus saja, kehidupan mahasiswa juga seringkali bersenggolan langsung dengan masyarakat. Sesuai denga tri darma perguruan tinggi; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta pengabdian masyarakat.

Dari Kata maha-siswa saja sebenarnya masyarakat kampus sudah diberi amanah oleh bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, arti kata maha dalam KBBI adalah sangat, amat. Bila diartikan dalam keilmuan, mahasiswa adalah orang-orang yang sangat paham dengan berbagai disiplin ilmu. Maka bukan hal yang aneh lagi bilamana mahasiswa selalu ditunggu-tunggu dedikasinya untuk masyarakat Indonesia.

Selain itu pula, ternyata aktifitas mahasiswa (Masyarakat Kampus) tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia secara umum. Terlebih dalam hal politik, Budaya dan sosial masyarakatnya yang beragam. Di kampus itu lah kita dapat melihat aktifitas kehidupan masyarakat Indonesia dalam ruang lingkup yang lebih kecil, layaknya miniatur.

Benang Merah

Dalam konteks politik, dunia kampus mempunyai budaya yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi dalam per-politikan di Indonesia. Sebut saja dalam hal perebutan kekuasaan/Jabatan. Cerminan negara hampir takdapat dibedakan lagi dengan apa yang terjadi di kampus. Bagaimana tidak, kesepakatan-kesepakatan terselubung dari berbagai kelompok seringkali terjadi layaknya silaturrahmi politik yang dilakukan oleh petinggi partai di negeri ini dalam mencari koalisi. “Tak ada sahabat sejati dan tak ada kawan yang abadi”. Itulah kata yang sangat pas bagi kelompok politisi muda mahasiswa. Karena, apa yang terjadi hari ini belum tentu terjadi besok, demikian sebaliknya. Semuanya berbau kepentingan. Entah itu kepentingan kelompok atau pribadi. Dalam hal Pemilihan Umum Raya (pemira) juga demikian, pemilihan untuk menjadi pemimpan masyarakat kampus (Presma) atau pun (DPM) selalu dipegang kendali oleh kelompok mayoritas. Lazimnya dinegara ini yang berasal dari parpol besar.

Dalam konteks tatanan kepemerintahan, masyarakat kampus juga mempunyai pemimpin dari tingkat daerah (Lokal) hingga kepala negara (Nasional), untuk lembaga eksekutifnya mulai dari Bupati, Gubernur, hingga Presiden Mahasiswa. Demikian juga untuk lembaga legislatifnya jg mulai dari tingkat hima prodi (Kabupaten), Fakultas (Provensi) sampai dengan DPM Universitas (DPR RI).

Sedangkan dari sisi perilaku sosial dan budaya, masyarakat kampus juga mempunyai kemiripan perilaku dengan masyarakat di Negara ini. Munculnya masyarakat kampus individualis yang hanya mementingkan gaya dan trend kehidupannya sendiri tanpa memperdulikan keadaan orang lain (Baca: Masyarakat Sosial) merupakan suatu cerminan kecil dari perilaku bangsa ini. Bagaimana tidak, di negara kita munculnya sifat apatis sudah mampu menghilangkan sifat sosial bangsa hanya karena kekuatan nilai matrealistis dan gengsi yang tak “ter-ampunkan”. Dengan demikian, dalam kehidupan masyarakat kampus akan ada pilihan yang saling besimpangan, antara kehidupan masyarakat kampus yang apatis layaknya masyarakat individualis dengan masnyarakat kampus yang selalu peduli dengan keadaan masyarakat sosial dengan memperjuangkan hak dan keadilan atas nama rakyat.

Melihat banyaknya kemiripan perilaku masyarakat kampus dengan masyarakat Negara ini menjadi bukti kongkrit kalausaja kampus memang layak disebut sebagai miniatur kecil sebuah Negara.

MENJADI mahasiswa secara tidak langsung memiliki tanggung jawab terhadap sosial. Sebagai kaum terpelajar, mahasiswa yang menjadi bagian dari civitas akademika harus mampu berkontribusi demi mewujudkan visi misi Perguruan Tinggi dan memiliki kepekaan sosial.

Keberadaan mahasiswa sebagai kaum terpelajar tidak lepas dari peran Perguruan Tinggi. Karena logikanya tak akan ada Perguruan Tinggi tanpa ada mahasiswa. Sebagai kaum intelektual muda, mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang setingkat lebih tinggi di atas siswa. Selain mendapatkan pembelajaran dan menyerap ilmu saat kuliah, mahasiswa juga harus memiliki kontribusi terhadap ilmu itu sendiri. Mahasiswa dituntut aktif dalam kegiatan belajar, baik di dalam ruang perkuliahan maupun belajar secara mandiri di luar kelas.

Sebagai tempat menimba ilmu, Kampus menjadi tempat mengasah intelektualitas dan pencarian jati diri mahasiswa. Banyak kegiatan kampus yang memaksa dan menuntut mereka untuk menjadi masyarakat ideal kelak ketika kembali ke kampung halaman. Mulai dari bangku kuliah yang serba padat dengan tugas, seminar silih berganti tapi tak pernah membosankan, kajian-kajian ilmiah yang terus menjadi bumbu semangat untuk terus belajar.

Tidak cukup di lingkungan kampus saja, kehidupan mahasiswa juga seringkali bersenggolan langsung dengan masyarakat. Sesuai denga tri darma perguruan tinggi; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta pengabdian masyarakat.

Sistem kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan kebebasan memilih membuat Mahasiswa semakin kokoh berada di tengah-tengah poros badai yang menimpa Negeri ini. Sadar atau tidak, sebagian masalah di Negeri ini, dapat diselesaikan Mahasiswa dengan baik. Karena Mahasiswa lah satu-satunya generasi yang selalu terlibat langsung dalam ruang lingkup kehidupan bermasyarakat, berbudaya, politik, hingga ekonomi.

Dari Kata maha-siswa saja sebenarnya masyarakat kampus sudah diberi amanah oleh bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, arti kata maha dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah sangat, amat. Bila diartikan dalam keilmuan, mahasiswa adalah orang-orang yang sangat paham dengan berbagai disiplin ilmu. Maka bukan hal yang aneh lagi bilamana mahasiswa selalu ditunggu-tunggu dedikasinya untuk masyarakat Indonesia.

Selain itu pula, ternyata aktifitas mahasiswa (Masyarakat Kampus) tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia secara umum. Terlebih dalam hal politik, Budaya dan sosial masyarakatnya yang beragam. Di kampus itu lah kita dapat melihat aktifitas kehidupan masyarakat Indonesia dalam ruang lingkup yang lebih kecil, layaknya miniatur.

Melihat banyaknya kemiripan perilaku masyarakat kampus dengan masyarakat Negara, ini menjadi bukti yang kongkrit, bahwa kampus memang layak disebut sebagai miniatur kecil sebuah Negara.

 

Penulis Charlie J. Pangemanan